Reading the bible

Nama               : Suriani Waruwu

Semester          : VII (Tujuh)

Mata Kuliah    : Eksegesis PB

Dosen              : Dr. Hendi Wijaya S.Si

Tugas               : 1 (satu)

Level kognitif

Saat membuka dan membaca Alkitab ibarat sedang menemukan Yesus dimana yang Dia adalah Firman Allah itu sendiri yang telah menjadi manusia (Firman itu di tulis dalam bahasa manusia) dan tidak hanya itu saja, melainkan saat membaca Kitab Suci ibarat kita sedang membuka pintu surga dan Yesuslah sebagai Kuncinya. Dalam pembacaan Alkitab tidak hanya baca sepihak saja melainkan kita meminta tuntunan Roh Kudus karena Dialah yang mengajarkan kita segala sesuatu (Yoh 14:26)  dan tidak hanya itu juga melainkan kita meminta tuntunan Gereja karena Alkitab itu lahir dari Gereja itu sendiri dan perlu melihat tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja, harus bkita berinteraksi dengan mereka. (Paradosis).

Saat membaca Kitab Suci tidak lagi hanya sekedar kognitif atau pengetahuan saja di dalam nous kita melainkan melibatkan hati hati dan jiwa kita serta seluruh totalitas hidup kita karena saat membaca Alkitab sama seperti kita sedang berbicara dengan Allah dan Allah berbicara kepada kita lewat FirmaNya kepada kita. Sehingga pikiran Kristus kita ketahui. Salah satu contoh dalam Alkitab orang yang membaca Alkitab sejak kecil adalah Timotius sendiri, 2 Timotius 3:15. Namun yang di bacanya pada waktu itu bukan PB melainkan PL karena pada saat itu PB belum ada.

Kitab suci itu di tulis dengan Bahasa manusia tapi di ilhamkan dengan Roh Kudus. Waktu kita eksegesis kitab suci apa yang menjadi pikiran Allah di pakai para rasul lalu di balik pikiran Bahasa manusia isinya pikiran Kristus. Maksudnya pikiran kita di tuntun Roh Kudus? Christ center, personal, obedience, eklesial. Mengajar (2 tim 3:15) itu artinya doktrin. Doktrin itu di dapat dari mana? Pikiran Allah. doktrin itu apa? Menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik orang dalam kebenaran. à Berarti ada kuasa ( Roh Kudus ). Kita sebagai para pembaca Firman harus masuk pikiran kita ke dalam pikiran Allah.

Ada 4 cara untuk mengetahui pikiran Kristus di dalam Kitab Suci:

  1. Christ Center
  2. Eklesial
  3. Personal
  4. Obedience

Langkah-langkah dalam eksegesis:

Histori:

  • teks
  • terjemahkanteks
  • poin-poin sintantic
  • summary
  • konsep teologis

Tidak cukup hanya ini saja tapi harus masuk ke theoria, antara lain:

  • tipologi = Kristus 2 tim 3:15
  • christ centered
  • ecclesial

Untuk apa? Pikiran kristus / spiritual meaning -> reproof -> correction -> virtues -> Efesus  2:102:10

Firman benar-benar telah menjadi daging (1Yoh. 1:1-4). Alkitab bukan berisi cacatan sejarah melainkan apa yang Firman katakan, karya Kristus dan GerejaNya.

dan dalam pembacaan surat ini harus saling berinteraksi

(Kristus -> Roh Kudus -> Para Rasul -> Tradisi -> gereja)

Jika seorang raja menulis sebuah surat kepada kita. Waktu kita terima tentu kita baca dengan gembira dan hati-hati. Tapi bagaimana sikap kita jika yang menulis surat itu kepada kita Allah sendiri apakah kita baca dengan gembira dan hati-hati? Ini menjadi sebuah pertanyaan bagi kita. Ketika kita membaca surat ini, kita baca dengan muka ke muka tapi kertas (Firman) ini isinya. Personal conversation face to face with the living God. Ketika kamu membaca kertas (Kitab suci) ini, kamu sedang berdoa dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Dengan iman katakan Saya bisa melihat Alkitab itu ialah surat pribadi Allah yang di kirimkan khusus untuk pribadi saya tidak hanya untuk orang lain tapi di tuliskan untuk saya. Dalam Sam 3:10 -> seperti Samuel meresponi Firman Allah, begitu pulalah sikap kita meresponi Firman Allah. Yesaya 6:8

Kitab suci di inspirasi secara Ilahi di inspirasikan dalam Bahasa manusia. Alkitab itu berotoritas menyaksikan dalam ciptaan dll dalam Bahasa manusia.  2 Petrus 1:20 -> bahwa nubuat-nubuat kitab suci tidak boleh di tafsirkan dengan sembarangan. Karena isi dari kitab ini ditulis secara Ilahi oleh Roh Kudus. Karena Roh Kudus yang mengilhami isi kitab suci maka tidak ada yang salah, jd kita perlu membacanya karena dengan itu kita sedang berbicara dengan Allah.

Obedience

waktu kita membaca kitab suci maka kita harus punya scriptural mind (obedience) Yoh 20:1 à apa yang di catat ini bukan sembarangan tapi bisa dapat hidup kekal. Alkitab itu adalah sebuah surat dari surgawi dan kristus sendiri yang berbicara kepadamu. Jadi respon kita pada baca kitab ini adalah melalui ketaatan. Karena di inspirasi ilahi maka isinya saling melengkapi. Kitab ini merupakan satu kesatuan karena satu pengarang yang adalah Allah sendiri dan pesannya sama. Penulis kitab ini berbeda-beda dalam waktu yg berbeda-beda dan penulisnya juga berbeda-beda. “at various and in various ways”.

Ibrani 1:1. setiap kata dalam alkitab merefleksikan jaman waktu alkitab di tulis dan tentu dengan sudut pandang penulis dan bahasanya.

Maka disini Tuhan tidak menghilangkan kepribadian kita karena Tuhan memakainya.

Menara Babel (Kej. 11) yang dicerai beraikan oleh Allah adalah typology dari pentakosta atau gereja, yang kemudian mengumpulkan mereka.

1 kor 3:9 à kita adalah sekerja Allah. pengarang dr setiap buku itu di hembusi ibarat seruling yang di mainkan oleh Roh Kudus. Mksdnya disini

Karena alkitab di tulis dalam Bahasa manusia maka ada tempat bagi kita waktu belajar bible. Pikiran kita masuk ke dalam Firman dan pikiran kita itu merupakan pemberian Allah dan kita tidak perlu tahu perlu tapi kita harus tahu historianya. Dan melihat divine aspect. Ini tidak hanya Bahasa manusia tapi ini juga sebagai Firman Allah (kekal). Pada tulisan itu  ada Yesus Kristus. Jadi, kalau kita membaca kita jangan hanya pengen tahu historinya tapi ada satu pertanyaan bagaimana saya bisa di selamatkan.  2 Tim 3:15 à Firman menuntun pada keselamatan. Ketaatan pada Firman mengandung buah pengertian:

  1. kekaguman dan sikap mendengar sehingga ketika kita membacanya kitab oleh di ubahkan tapi kita harus membersihkan pintu hati kita.

bagaimana Firman ilahi itu bisa menyelamatkan kita? Kagum. Waktu kita membaca kitab suci harus kagum dulu seperti kata plato.

  1. Ketaatan. Berhenti berbicara dan mulai mendengar, terbuka, sementara tangan kita menjangkau ke surga. At the annunciantion luk 1: 38. Kalau tidak pernah mendengarkan maka tidak ada Yesus Lukas 2:11 mengundang dalam hatinya, mengunyah Firman dalam hatinya. Itulah obedience. Lukas 2:51; yoh 2:5 mengunyah Firman menunjukkan obedience.

Understanding the bible through the church

Kitab suci dan gereja terkoneksi dengan yang lain dan saling bergantung sama lain. Di dalam sejarahnya kalau di PL kitab di baca dalam septuaginta yang terdiri dari Tanakh tahun 90. Septuaginta di terjemahkan dr Bahasa ibrani ke Bahasa Yunani. Yesus dan para rasul mengutip dari septuaginta. Jadi membaca Kitab suci tidak hanya sepihak, perlunya melihat perkataan para bapa-bapa Gereja dan para rasul dan meminta penatua, mengapa karena merekalah yang lebih mengerti isi dari Alkitab dimana kitab itu sendiri lahir dari gereja. Tuhan Yesus memberkati, Amin.

Diterbitkan oleh suriani17

selagi bisa ku pasti terus berjuang

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: