Apa arti Sprituaslitas?

Spritual menuju kepada Roh. Mengapa manusia disebut spritualitas karena kita memiliki Roh. Sehingga kita bisa dipenuhi dengan Roh Kudus makanya kita disebut manusia Ilahi. Istilah spiritualitas manusia menceritakan tentang roh manusia itu sendiri. Siapapun yang mempunyai Roh atau inner spirit disebut manusia rohani. Spritualitas kita itu adalah seuatu perjalanan menuju penyatuan ilahi dengan Allah (Theosis).

Spritualitas Kekristenan:

Spritualitas Kristen adalah suatu cara membersihkan kedagingan kita untuk mencapai kesempurnaan bersama dengan Kristus. Jadi, kita tahu sekarang prosesnya, jikalau kamu telah dipenuhi oleh Roh Kudus maka segala yang kamu sentuh, raba, kerjakan, pikirkan dan lakukan itu semua untuk mencapai/tujuannya adalah : kesempurnaan dengan Allah untuk mencapai Theosis (Matius 5:48)

 The AIM

  1. Untuk mencapai union of the soul with God,
    1. Menjadi serupa dengan Allah dan memperoleh pengetahuan tentang Allah
      1. Efek dari penyatuan ini adalah kita akan menjadi manusia yang mempunyai spirit dan terang serta memancarkan terang itu.

Tujuannya adalah : untuk ikut ambil bagian dalam kodrat Ilahi. Sama seperti kita mengerjakan Spritual Personal.

Tujuan Akhir dari keselamatan

Deifikasi

            Deifikasi adalah menyatu dengan Allah. di dalam deifikasi kita mempunyai energy, kita tidak menjadi Allah tetapi menjadi anak-anak Allah oleh Energy-Nya. kenapa kita mengalami Theosis karena kita telah menerima Energy Allah, dan kita menjadi Anak Allah karena Anugerah-Nya. cahaya itulah yang membuat kita hidup didalamnya. Kita akan terus diisi dengan enegry ilahi dan kita mengalami energi yang kekal itu. Ada cahaya yang tidak tercipta dan kita menyatu dengan yang tidak tercipta. Kita akan menjadi abadi karena energi itu. Kok bisa? Karena kita terus menerus menyerap energy of God sehingga kita menjadi Ilahi. Kita tidak menjadi Allah dalam esensinya tapi melalui oleh anugrahNya. Kita akan terus di sinari sehingga kita semakin bercahaya. Kita akan terus di isi energi ilahi sehingga kita menjadi kekal. Esensinya kita tidak tahu seperti apa tapi kita bisa merasakan karya energinya. Untuk mencapai tujuan spiritual kita maka Paulus memberikan satu gambaran apa yang perlu kita kerjakan yaitu seperti seorang atlet. dalam 1 Kor 12:24-27 perjalanannya ibarat seperti perlombaan lari dan pertandingan tinju. Kita terus berusaha untuk memperoleh hidup kekal dan perlunya askesis/ mendisplinkan diri. Kalau kita tidak melatih diri dalam mencapai/memperoleh hidup kekal itu maka kita bisa gagal seperti di ayat 27. Dalam 2 Tim 2:5;15 usahakan dirimu berkenan di hadapan Allah. Berlarilah sedemikian rupa karena dalam pertandingan harus serius dan tidak main-main. Kata Fr. Staniloae Saiys tujuan ascetim bukan saja membebaskan diri dari nafsu tapi juga membersihkan natur kita dari pergerakan nafsu dosa dan membersihkan pikiran dari nafsu. Kemudian, mematikan manusia lama kita itu tidak secara sekaligus tapi bertahap. Asceticism itu seperti sebuah latihan yang membuat kita spiritual kita bertumbuh.

Tahapan itu ialah:

  1. Dasar menyatu dengan Allah adalah kasih
  2. Kita mencapai union God bukan lagi dengan hanya dengan intelektual, pengharapan namun dengan kasih
  3. Anugrah itulah kasih Allah yang kita nikmati.

Dalam Asceticism, kita membutuhkan komunitas, untuk pertumbuhan rohani kita misalnya (KTB, dsb). Jadi kalau Roh Kudus sebagai ibu rohani kita maka saudara seiman kita itu seperti saudara dalam keluarga. Fr. Dimitru Says; Kita harus bekerja dan berusaha supaya mendapatkan kebajikan  dan kita mengerjakan itu semua dalam diri kita dan tetangga kita. Kita belajarnya dari Allah yang berkomunitas di dalam Roh Kudus dan Anugrahnya. Dia mengutus AnakNya dan Roh Kudus dan Anugrahnya dengan kita dan ini berdasarkan kasih Yoh 3:16. Kasih dari Allah inilah yang di curahkan kepada manusia (kasih dari Allah dicurahkan kepada Anak dan Roh Kudus kepada kita) jadi spiritualitas kita semakin naik bukan semakin turun kebawah tapi semakin naik menuju kepada Allah. Kalau itu pendakian maka langkah-langkahnya adalah:

  1. Praktical phase, sebagai langgkah pemula. Mengalahkan passion/nafsu dan melakukan kebajikan sampai melakukan kasih itu.
  2. Contemplative phase, atau istilahnya iluminasi. Berarti kita fokus seperti Rasul Paulus fokus hanya kepada Allah sehingga dia tidak takut mati lagi dan tidak menginginkan dunia lagi tapi yang dia pikirkan adalah fokus kepada Allah dan menyatu dengan Allah. Orang yang mencapai contemplative maka dia sudah sampai pada tahap iluminasi sampai pada titik terang itu.
  3. Mystical knowledge; sudah mencapai spiritual yang paling tinggi. Kita tidak lagi memikirkan hal-hal dunia tapi kepada Allah. Contoh Rasul Paulus, hatinya di terangi dan tidak memikirkan hal-hal dunia. Inilah puncak kasih kepada Allah (ecstasy of love)

Are passions natural

Apakah passion itu natural atau unnatural?

Passion itu adalah sebuah natural seperti keinginan daging, nafsu sex dan ada keinginan lainnya. Dan passion itu tidak semua jahat. Tapi ada juga yang unnatural dimana ada sedih, marah dll. Passion unnatural itu tidak hanya bersifat tubuh jasmaniah saja. passion ini natural ketika di gunakan dengan bijaksana seperti makan seperti biasa tidak berlebihan tapi passion yang unnatural hidup hanya untuk makan, bersenang-senang, pakaian, dll. Apasih passion dari jiwa? Mencari Allah tidak memikirkan hal-hal dunia. Oleh sebab itu, dari mana munculnya passion unnatural tadi misalnya hidup hanya untuk makan saja. Kalau hanya itu maka Fr. Dimitru staniloae mengatakan

  1. Intelek itu makin lama makin lemah dimana nous kita di kendalikan oleh tubuh dan tidak bisa berfungsi dengan normal lagi seperti binatang.
  2. Indra kita di kuasai maka dia akan memperbudak kita karena dosa sifatnya memperbudak dan akhirnya kita menjadi sama seperti binatang yang hanya di kendalikan oleh nafsu saja. Dalam Roma 7:22-23 kita menjadi tawanan hukum dosa yang adalah anggota-anggota tubuh kita.

Itu sebabnya kita membebaskan soul ini dari penguasaan tubuh dimana tubuh menguasai jiwa kita maka yang harus di bebaskan adalah jiwa kita.

Dalam jiwa kita ada tiga hal yaitu:

  • intelect/nous
  • desire
  • emotion

Kita harus membedakan nous dengan otak. Otak itu kalau kita mati tidak berfunggsi lagi tapi pikiran dan nous tetap berfungsi. Kalau tubuh yang menguasai jiwa kita maka kita bisa jatuh dalam dosa. Lalu bagaimana membangkitkan jiwa menguasai tubuh? Tentunya dengan kekuatan jiwa, intelect dan desire.

The brain secara fisikal sedangkan mind itu secara spiritual. Kebanyakan pikiran kita bekerja dengan sensitif sehingga itu yang menjadi sumber passion. Lalu batin itu mendominasi pikiran kita dan kita bisa jatuh dalam dosa dan tidak lepas dari situ. Salah satu proses purifikasi adalah bagaimana intelek yang berhubungan dengan Allah bisa mengendalikan otak kita.

Passion menurut philokalia

Passion muncul dari keinginan tubuh. Rasa makan berasal dari jiwa yang mendorong tubuh untuk makan. Makan itu normal tapi kalau tubuh ini sudah di penuhi oleh passion ini maka terjadilah kerakusan itulah dosa. Normalnya jiwa (intellect à mengenal Allah, desire à menaati Allah, dan emotion à mengasihi Allah) ketiga ini di kuasai Allah, Roh Kudus dan anugrah. Namun ini bisa berubah passion jika Flesh menguasai jiwa itulah kerjanya timbulnya dosa.

Dalam formasi rohani menyimpulkan prosesnya lahirnya dosa dan maut:

Godaan iblis à nous à lemari batin à id à logismoi à keinginan daging/nafsu à menyeret dan memikat à dosaà maut.

Itu sebabnya pemurnian batin dan tubuh:

Allah à energi ilahi/ anugrah Allah yang di bawa oleh roh kudus à nous à lemari batin à menjadi supper ego (hukum Allah) à  logos (reason, emotion, desire).

Passion itu apa dan bagaimana mengatasinya?

Kata bapak gereja passion itu muncul dari dalam semacam kebun binatang. St. Gregory of nyssa mengatakan Passion adalah Binatang datang kedunia sebelum kita ada dan kita mewarisi dari sifat mereka. Kualitas-kualitas ini contoh mencari makan, manusia juga begitu. Punya standar satu sisi seperti binatang dan satu sisi seperti Allah karena kita punya jiwa. Dari mana datangnya passion itu? Untuk mengatasinya kita harus berjuang melawan logismoi. Untuk mengatasi logismoi perlunya nepsis yaitu prayer.

Ada beberapa hal yang membuat kita berdosa:

  1. Gluttony,
  2. fornication,
  3. love of money,
  4. depression (lype),
  5. anger, listlessness (akedia),
  6. and pride.

Passion itu bisa memperbudak kita. St. Nocodemos mengatakan Jangan biarkan dalam dirimu memberi mereka makan tetaplah berjaga-jaga melalui doa. Yang paling penting adalah bagaimana trasfigur passion? St. John Climacus mengatakan mengubah passion di ubah menjadi kasih seperti waktu Yesus mengampuni wanita berdosa. St. Gregory of Nyssa said mengatakan: Dari mana asal mula passion? Passion itu merupakan impur yang di tanamkan dalam nature kita. Passion ini bisa di gunakan dengan baik atau kejahatan. Mis, emotion. Marah terhadap dosa dan terhadap hal-hal jahat. Lalu cemburu bisa di ganti dengan keinginan kebenaran, kesombongan bisa di gantikan dengan nilai positif. Passion yang terberkati dan ilahi bukan menghilangkan tapi bagaimana passion itu menjadi kebajikan. Apa sih dosa dari intelek, desire, emotion? Intelek Jatuhnya pada kesombongan, desire jatuhnya menyerang tubuh, keinginan sex dll dan emotion ini jatuhnya pada kemarahan, depresi dll.

Kebajikan dan dosa

Manusia (Anthropos) terdiri dari manusia batiniah (Esothen Anthropos) yaitu jiwa dan Roh dan manusia lahiriah (Exo Anthropos) yaitu tubuh jasmani. Seperti apa isi dari jiwa dan tubuh manusia dalam hal dosa dan kebajikan? Yohanes Damaskus memberikan kita pencerahan tentang hal ini dalam buku Philokalia Volume 2 yang dikompilasi oleh Nikodemus dari Gunung Athos dalam subjudul “On the Virtues and the Vices.” Senses Jiwa dan tubuh masing-masing memiliki indra-indra (senses) dan kebajikan- kebajikan (virtues). Senses dari jiwa adalah:

  • mata jiwa (nous; the intellect),
  • pikiran (reason),
  • gagasan (opinion; concept),
  • khayalan (fantasy),
  • dan persepsi (sense-perception).

Senses dari tubuh adalah:

  • penglihatan,
  • pendengaran,
  • penciuman,
  • perasa,
  • dan sentuhan.

Virtues Virtues dari jiwa ada 4 yang paling utama yaitu:

  • keberanian,
  • penilaian moral,
  • pengendalian diri,
  • dan keadilan. I

Ini melahirkan kebajikan-kebajikan lain dari jiwa: iman, harapan, cinta, doa, kerendahan hati, kelembutan, panjang sabar, ketekunan, kebaikan, kebebasan dari amarah, pengetahuan tentang Tuhan, keceriaan, kesederhanaan, ketenangan, ketulusan, kebebasan dari kesombongan, ketiadaan rasa iri, kejujuran, kebebasan dari keserakahan, kasih sayang, belas kasihan, kedermawanan, ketidaktakutan, kebebasan dari kekecewaan, penyesalan yang mendalam, kesopanan, penghormatan, kerinduan untuk Kerajaan Allah. Kemudian ada virtues dari tubuh yang di dapat ketika virtues dari jiwa terpancar yaitu kehidupan askesis yang meliputi: pengendalian diri, puasa, lapar, haus, tetap terjaga, berlutut, mengenakan pakaian sederhana, makan makanan sederhana, makan perlahan, minum air, tidur di tempat sederhana, kesederhanaan, mengabaikan penampilan pribadi, tidak mementingkan diri sendiri, kesendirian, keheningan, menjadi mandiri, diam, dan bekerja dengan tangan sendiri. Ada virtues maka ada kebalikannya yaitu passions atau nafsu-nafsu baik berasal dari jiwa dan tubuh.

Passions

  1. Passions dari jiwa adalah kelupaan, kemalasan, dan ketidaktahuan. Ketika mata jiwa yaitu nous atau intelek telah digelapkan oleh ketiga passions ini maka jiwa didominasi oleh semua nafsu lainnya. Mereka adalah penyembahan berhala, pengajaran palsu, penghujatan, murka, amarah, kegetiran, cepat marah, tidak manusiawi, dendam, menggigit dari belakang, kedengkian, kesedihan yang tidak masuk akal, ketakutan, pengecut, pertengkaran, cemburu, iri hati, kebanggaan, kemunafikan, kebohongan, ketidakpercayaan, keserakahan, kecintaan pada hal-hal materi, keterikatan pada hal-hal duniawi, kelesuan, mudah putus asa, tidak bersyukur, menggerutu, kesombongan, kemunafikan, kecintaan pada kekuasaan, kecintaan terhadap popularitas, tipu muslihat, tidak tahu malu, sanjungan yang berlebihan, pengkhianatan, kepura-puraan, kebimbangan, cinta diri, keserakahan akan uang akar semua kejahatan (1 Tim 6:10) dan, akhirnya, kebencian.
  2. Passions dari tubuh adalah kerakusan makanan, keserakahan materi, kemewahan berlebihan, mabuk, ketidaksucian, perzinahan, ketidaksopanan, kenajisan, inses, pencurian, penistaan, perampokan, pembunuhan, segala jenis kemewahan fisik dan pemuasan keinginan daging (terutama ketika tubuh dalam keadaan sehat), okultisme seperti mantra, mengenakan perhiasan berlebihan, kesombongan, tampilan yang bodoh, penggunaan kosmetik yang berlebihan, melukis wajah, tato, membuang-buang waktu, bermimpi-hari, dan tipu muslihat. Akar atau penyebab utama dari semua nafsu tubuh ini adalah cinta akan seks, pujian, dan uang/harta. Setiap kejahatan berasal dari 3 penyebab ini. Seseorang tidak dapat melakukan satu dosa apa pun kecuali 3 passions of the soul timbul (kelupaan, kemalasan dan ketidaktahuan) dan memperbudak kita. Kejahatan tubuh timbul dari dalam yaitu nafsu atau passions dari jiwa kita.

Dosa dan 3 Aspek Jiwa:

Menurut Yohanes Damaskus jiwa manusia terdiri dari 3 aspek yaitu intelek/intellect/mata jiwa, emosi/incensive/perasaan, dan keinginan/desire/hasrat.

  1. Dosa dari aspek intelek adalah ketidakpercayaan, ajaran sesat, kebodohan, penghujatan, tidak tahu berterima kasih, dan perbuatan dosa lain yang berasal dari aspek ini. Dosa-dosa ini dapat disembuhkan melalui iman dan doktrin melalui Roh Kudus, doa yang tiada henti, dan ucapan syukur kepada Allah.
  2. Dosa dari aspek emosi adalah keegoisan, kebencian, kurang belas kasih, dendam, iri hati, pembunuhan, dan terbelenggu terus-menerus pada hal-hal seperti itu. Dosa-dosa ini akan disembuhkan oleh simpati yang mendalam untuk sesama manusia, cinta, kelemahlembutan, kasih sayang persaudaraan, belas kasihan, kesabaran, dan kebaikan.
  3. Dosa dari aspek keinginan adalah kerakusan, keserakahan, kemabukan, ketidaksucian, perzinaan, kenajisan, ketidaksopanan, kecintaan pada hal-hal materi, dan keinginan akan kemuliaan kosong, emas, kekayaan dan kesenangan daging. Ini disembuhkan melalui puasa, pengendalian diri, kesukaran, persembahan harta milik kepada orang miskin, keinginan untuk berkat-berkat yang bernilai kekal, merindukan kerajaan Allah. Amin.

Nama : Suriani Waruwu

Semester : VII

M.K : Dogmatika 4

Tugas : Ke 9

Diterbitkan oleh suriani17

selagi bisa ku pasti terus berjuang

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: