KESELAMATAN Dalam Pandangan REFORMED CALVINIS dan IMAN ORTHODOX

Video Romo Daniel bagian pertama dan kedua

Keselamatan

Keselamatan merupakan kasih karunia atau anugrah Allah efesus 2:8-9. Keselamatan itu tidak di raih manusia tetapi murni pemberian Tuhan. Karena kebaikn manusia tidak dapat menarik simpati Tuhan, oleh karena itu keselamatan adalah murni inisiatif Tuhan. Sebelum dunia di jadikan bahwa Yesuslah yang di pilih Allah yang di predestinasikan dalam tubuh inkarnasi. Tetapi dalam kodratnya sebagai Firman Allah, Dialah sang subyek yang mempredestinasi, Yesus sebagai Firman Allah, Dia di pilih oleh Allah sang Bapa, bikan hanya sebagai pelaksana dari kehendakNya untuk menciptakan segala sesuatu, tetapi sebagai pelaksana juga dari kehendak Sang Bapa untuk menyelamatkan. Karena dalam ke-Mahatahu-an Tuhan, sebelum segala sesuatu terjadi, Tuhan telah tahu, manusia di ciptakan seturut segambar denganNya. Manusia selamat atas respon kehendak Allah Yohanes 6:44; 15:16. Jadi tentang keselamatan, sebetulnya kita tidak memilih Tuhan, Tuhanlah yang terlebih dahulu memilih kita. Kita tidak aktif untuk memilih, merespon, Tuhanlah yang memberikan karunia iman percaya itu supaya kita percaya kepada Dia. Dalam Roma 9:20-24 sangat jelas bahwa Paulus mengatakan: 20 Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”

 21 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

 22 Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan

 23 justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan,

 24 yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain, (Rom. 9:20-24 ITB) dalam ayat di atas di katakana bahwa Tuhan itu seperti pembuat tanah liat, dan kita adalah tanah liat. Namun yang di maksud Rasul Paulus disini adalah keselamatan bukaan perorangan.

            Berbicara mengenai keselamatan antara Gereja Timur dan Barat memang titik bijaknya berbeda. Gereja timur berbicara berdasarkan inkarnasi, berdasarkan wahyu dimana Allah menyatakan diri di dalam daging di dalam Yesus Kristus sedangkan Gereja barat berbicara terutama dalam tradisi reformasi, pemahaman tentang keselamatan itu di pengaruhi oleh filsafat pada jaman abad pertengahan yang di sebut filsafat scolastika. Yang terutama tang mempengaruhi cara berpikir scolastika ini terutama dalam hal keselamatan adalah angsam dari caterboy. Bagaimana bedanya disini? Bedanya, kalau di Gereja Timur itu tidak hanya sekedar pembenaran oleh iman, tidak. Gereja Timur mengenai pemulihan Kodrat. Jadi, kalau Gereja Timur berbicara tentang panunggalan dengan Allah Gereja Barat berbicara tentang transaksi hukum. Menurut angsam karena manusia jatuh di dalam dosa sehingga dia tidak berkenan kepada Allah dan manusia ini akhirnya dosanya ini membuat Allah murka kepada manusia. Kalau Allah murka, murkanya Allah ini dan ke adilan Allah yang di langar oleh kejatuhan manusia ini harus di bayar dan bayarannya itu harus seimbang dengan kesucian Allah sehingga keadilan Allah itu dapat di puaskan. Nah, karena tidak ada dalam manusia yang mampu mengimbangi keadilan Allah ini maka Firman Allah yang adalah Allah Dia menjadi manusia, maka Dia di hukum untuk menggantikan manusia untuk memuaskan keadilan Allah, padahal manusia yang berdosa. Dengan demikian matiNya di salib Dia telah memuaskan keadilan Allah, sehingga orang yang percaya kepada Dia akan di benarkan oleh iman. Kalau memiliki iman kepada Yesus maka Allah melihat Yesus bukan orang tersebut, inilah konsep kasih karunia, dari konsep transaksi hukum. Dengan demikian orang itu di bebaskan dari hukuman Allah dan di selamatkan. Imannya pun karena manusia itu sudah jatuh dalam dosa maka manusia ini tidak punya kehendak bebas sama sekali dan itulah yang di sebut sebagai bejat total, mengalami kebejatan total. Karena manusia bejat total maka dia tidak bisa menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih dan untuk beriman maka dia hanya bisa di selamatkan kalau dia mendapat kasih karunia dengan jalan Allah yang memilih, itulah predistinasi. Dari situlah muncullah sistim yang akhirnya memiliki 5 poin calvinisme yang mencadi cara berpikir tentang keselamatan di dalam ke Kristenan pada umumnya yang meliputi calvinisme tapi juga Wesley meskipun pada akhirnya jaman berbeda untuk menandakan anatara ajaran Wesley mengikuti ajaran Arniusme, landasannya tetap sama dengan Calvinisme yaitu percaya pada kebejatan total ini. Jadi, dalam teologia protestan ketegangannya adalah antara ajaran Calvinisme dan Arniusme. Sebenarnya pada titik bijaknya sama manusia sudah bejat total. Lalu bagaimana dengan iman Orthodox? Iman Orthodox bukan bagian dari teologi yang muncul sesudah reformasi. Teologia Orthodox berasal dari Bapa Gereja purba yang akhirnya di rumuskan di dalam konsili-konsili Gereja terutama konsili ke-7 konsili yang merupakan titik bijak berteologi dalam gereja Orthodox yaitu di konsili di Nikea tahun 325, konsili Konstatinopel 381, konsili di Efesus 431, konsili di Calsedon 451, dan terakhir tahun 787. Keputusan bersama oleh Gereja bukan pendapat perorangan, Filsafat. Dalam konsili-konsili inilah yang akhirnya menjadi pagar dan menjadi tuntunan bagaimana Gereja Orthodox memahami tentang pengajaran iman Gereja mengenai keselamatan. Dalam protestanme biasanya kalau berbicara tentang keselamatan, berbicara tentang kodrat manusia, di lihatnya manusia itu sebagai yang telah jatuh dalam dosa. Sehingga natur manusia adalah natur dosa, kodratnya manusia kodratnya dosa berbeda dengan Orthodox. Kalau Orthodox tidak melihat dosa itu sebagai kodrat, dosa itu sebagai benalu yang menempel pada kodratnya sebab manusia tidak di ciptakan dengan berkodrat dosa. Memang ada kejatuhan tetapi tidak menghilangkan kodrat aslinya manusia. Apa kodrat manusia itu? Dalam Kej 1:26-27 berfirmanlah Allah: “baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, para Bapa Gereja mengerti ayat ini sebagai hakikat dan kodrat manusia. Karena manusia di cipptakan menurut gambarnya Allah, jadi gambarnya Allahlah yang menjadi pola ciptaan manusia. Gambar Allah itu siapa? Kalau kita baca dalam Kolose 1:15 Ia (Kristus) adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segalayang di ciptakan, jadi gambar yang hakikidalam diriNya itulah Kristus dan manusia di ciptakan menurut gambarnya Allah, berarti Sang Sabda yang akhirnya menjadi manusia yang adalah Kristus itulah jadi pola asli kemanusiaan, itulah prototipe kemanusiaan. Tapi gambar Allah juga berarti bahwa di dalam diri manusia itu ada refleksi sifat-sifat Allah yang menggambarkan sifat-sifatnya Allah, terutama apa? Kekudusan, kebenaran, kekekalan dan manusia tidak mungkin kekal karena kekal itu sesuatu yang tanpa awal dan tanpa akhir, manusia itu punya Allah yang menciptakan. Kekekalan Allah apa yang di maksud? Yang di maksud manusia itu abadi tidak bisa mati, ada awalnya tapi seterusnya tidak mati itulah gambaran Allah dari kekekalan karena manusia tidak mungkin kekal, kekekalan itu hanya miliknya Allah, kekekalan, kehendak bebas, kasih, adil dan seterusnya. Dan ini tidak terdapat dengan makhluk-makhluk lain. Manusia di ciptakan bukan hanya untuk merefleksikan sifatnya Allah tetapi untuk menjadi seperti Allah bukan menjadi Allah, itu tujuannya. Mengapa begitu? Karena manusia di ciptakan sebab Allah itu sejak kekal di dalam dirinya, inti dirinya adalah kasih. Mengapa kasih? Karena Allah itu Tritunggal. Dalam Yoh 17:24 jadi sebelum dunia di jadikan Allah itu aktif mengasihi Anaknya sendiri yang ada di dalam dirinya, Allah aktif mengasihi anakNya yaitu SabdaNya sendiri yang ada di dalam dirinya. Sebaliknya, Sabda begitu juga mengasihi Allah dalam Yoh 14:31 kalau Sabda itu sudah ada sebelum dunia di jadikan maka Dia mengasihi Bapa sejak kekal itu juga. Jadi di dalam Allah yang Esa itu Bapa mengasihi FirmanNya, Firman mengasihi Bapa. Jadi ada cinta kasih timbal balik. Lalu bagaimana dengan Roh Allah? Di dalam konteks hubungan kasih antara Allah dengan Putra ini alkitab mengatakan demikian dalam Roma 5:5 jadi, fungsi Roh Kudus adalah mencurahkan kasih Allah, etelah ada manusia, kasih ini di curahkan ke hati manusia padahal alkitab mengatakan Roh Kudus itu bukan makhluk, Roh Kudus itu kekal dan yang kekal itu bukan makhluk. Dalam Ibrani 9:14 betapa lebihnya dara Kristus, yang oleh Roh yang kekal karena Roh itu kekal maka fungsinya juga mencurahkan kasih itu kekal. Sebelem ada manusia maka kasih itu di curahkan kepada Dia yang sejak kekal di kasihi Allah di dalam diri Allah yang adalah Firman. itulah sebabnya, Allah Bapa mengasihi Putra melalui RohNya dan Putra/Firman juga mengembalikan kasih itu kepada Bapa melalui Roh yang sama, sehingga di dalam diri Allah ini ada lingkaran cinta kasih timbal balik, Bapa kepada Putra oleh Roh Kudus dan Putra kepada Bapa oleh Roh Kudus di dalam diriNya yang Esa. sehingga dengan demikian, hakekat kehidupan di dalam diri Allah adalah kasih. Bapa itu tritunggal itulah sebabnya dalam 1 Yoh 4:8;16 jadi, dari ayat-ayat ini di katakan bahwa sifat utama Allah adalah kasih. Inilah yang membedakan agama protestan dengan Orthodox, Calvinisme terutama. Jadi dari calvinisme titik bijaknya adalah filsafat yang menjadi atribut utama yang kita lihat dari pandangan Calvinisme adalah kedaulatan Allah padahal di dalam alkitab yang di tekan adalah kasih, tidak ada dalam alkitab yang mengatakan Allah adalah kedaulatan. Memang Allah itu Mahakuasa, oleh karena itu di dalam pengakuan iman Gereja yang di rumuskan pada tahun 325 di nikea dimana butir satu mengatakan “aku percaya kepada satu Allah Sang Bapa yang Mahakuasa”. keMahakuasaan ini tidak berdiri sendiri sebab sifat hakikat Allah yang utama adalah kasih. Karena kasih ilahi itu adanya di dalam diri Allah padahal kasih itu sifatnya menjangkau keluar dirinya (sebagai kasih Bapa itu keluar dari DiriNya tinggal dalam Firmannya oleh RohNya begitu jga dengan sebaliknya). Memang sifat kasih itu menjangkau keluar sama seperti kita manusia ini kalau kita mengasihi seseorang pasti ada sesuatu yang keluar di dalam diri kita entah kata-kata I Love you. Kasih tidak hanya terpendam di dalam wujud perasaan tetapi selalu perbuatan keluar, Allah juga begitu. Di dalam kasihNya ini berkehendak untuk menjangkau keluar di dalam dirinya sendiri untuk membagikan kasihnya itu dengan sesuatu yang di luar Allah, padahal tidak ada sesuatu di luar Allah di dalam kekekalan itu. Tetapi, karena Allah Mahakuasa maka kehendak kasihNya itu Dia mewujudkan sesuatu di luar diriNya, itulah ciptaan terutama manusia. Jadi terciptanya manusia adalah karena keMahakuasaan Allah tetapi landasan di ciptanya manusia adalah karena kasihNya Allah. Kalau tujuan manusia di ciptakan karena kasih agar manusia ikut ambil bagian dalam kasihNya Allah yang adalah hidupnya Allah, mungkinkah dalam kasihnya ini Allah menentukan sebagian manusia dia masuk neraka, lainnya di selamatkan? Tidak. Memang Allah punya kuasa tapi di kendalikan oleh kasihNya. Sifat Allah itu tidak bisa di ambil satu di mutlakkan tetapi saling mempengaruhi kasihNya, Kuasanya terkait dengan satu dengan yang lain. Oleh karena itu kedaulatan Allah pun di kendalikan oleh kasihNya itu. Itulah sebabnya, manusia satupun tidak di tentukan untuk masuk neraka dalam tujuan asli penciptaan itu, kalau ada yang masuk neraka itu pilihan dia. Dalam Matius 25:41 iblis dan malaikat-malaikatnya, manusia tidak pernah di sediakan untuk api itu tapi untuk iblis dan malaikat-malaikatnya. Berarti kalau begitu manusia tidak ada yang di preditinasi untuk masuk neraka. Sebab tujuan di ciptakan manusia adalah supaya dia bisa ambil bagian dari kasihNya Allah supaya akhirnya dia bisa ambil bagian dalam kodrat ilahi sebagaimana di katakan dalam 2 Pet 1:4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Pet. 1:4 ITB). Itulah tujuan akhir keselamatan. Seperti dalam konsep teologia reformasi itulah titik keselamatan yaitu pembenaran oleh iman dan kalau gereja timur sesuai apa yang di katakana alkitab bukan hanya sekedar itu tapi ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi menjadi sama dengan yang ilahi di dalam Kristus. Bukan menjadi Allah tapi bisa ambil kodratnya Allah sehingga menjadi seperti Allah makanya dalam 1 Yoh 3:2 audara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. (1 Jn. 3:2 ITB) karena kita anak Allah maka kita sama seperti anak Allah tapi belum nyata. Makanya keselamatan itu bukan hanya sekedar saja  itulah sebabnya dalam teologi Orthodox di sebut sebagai Theosis yang artinya pengilahian menjadi sama seperti Dia ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambarnya yang salah satu dari sifat Allah yang akhirnya terefleksi dengan sifatnya manusia adalah kehendak bebas. Dalam keMahatahuanNya dalam kehendak bebasNya ada resiko (resiko untuk menolak dan menerima) jadi menolak atau menerima itu bukan Allah yang menentukan makanya manusia di beritahu dulu Kej 2:16-17 ayat ini menunjukkan bahwa manusia punya kehendak bebas, mau nurut untuk makan atau memberontak untuk makan, kalau manusia tidak punya kehendak bebas bagaimana di beritahu dalam ayat ini, di beritahu untuk tidak makan. Dari sini terefleksi bahwa manusia di ciptakan memang punya kehendak bebas. Manusia menjadi Theosis jika tidak berbuat dosa, namun karena manusia tidak taat maka mereka mengalami kematian. Jadi kematian ini sebagai alamiah dari pemberontakan yang Allah sudah beritahu sebelumnya. Karena Allah sudah tahu bahwa ada kemungkinan taat atau tidak maka di samping Allah menciptakan dari rancangan akibat kasihNya  maka Dia merancangkan untuk menciptakan melalui Firman, maka segala sesuatu di ciptakan melalui SabdaNya Yoh 1:1;3 tanpa Firman ini tidak ada satupun yang jadi. Ibr 1:2 karena Allah sudah tahu bahwa manusia tidak mampu untuk taat dan menyatu dengan Firman sehingga Ia menyediakan jalan sehingga melaluinya akhirnya menyatu dengan Allah. dalam 1 Petrus 1:18-20 penebusan adalah Yesus Kristus. Kristus itu siapa? Orang yang di pilih sebelum dunia di jadikan. Bukan manusia yang di pilih tapi Kristus. Di pilih untuk apa? Jadi penebus (Allah sudah tahu kalau Kristuslah yang menjadi sarana alam dan sekaligus yang menjadi penebus). Setelah manusia jatuh karena kodrat manusia tidak hilang makanya alkitab tidak mengajarkan manusia untuk tidak bejat total, memang ada rusaknya tapi tidak total. Buktinya apa? Kej 9:5-6 manusia memiliki kodrat di ciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Di dalam Yakobus 3:9-10 manusia sebelum kejatuhanpun di hormati untuk tidak di hujat oleh orang lain karena mereka masih memiliki rupa Allah, jadi kodratnya masih ada bukan kodrat dosa, yang menempel sesudah manusia memberontak kepada Allah. Apa sebenarnya wujud keberadaan sesudah kematian? Upah dosa adalah maut. Tadi manusia tida di ciptakan untuk mati akhirnya mati karena dosa tadi Roma 5:12 karena kejatuhan itulahyang membuat manusia kehilangan kemuliaan itu sebabnya adanya kebinasaan. dalam Roma 3:10-18 jangan di jadikan ayat ini sebagai bejat total tadi, ini adalah kutipan-kutipan yang di ambil di perjanjian Mazmur 14:1-3 ini berbicara tentang ateis dan yang nulis ini bukan orang Kristen bukan orang Yahudi. Ayat ini juga di ambil dalam Mazmur 53:2-4;13 kalau orang ateis tidak percaya maka itu di katakan bejat tapi ini bukan doktrin bejat total dalam Mazmur 5:10 yang di maksudkan disini adalah orang jahat, pembual dan sebagainya. Juga dalam dalam Maz 10:4;7 ayat-ayat ini adalah di kutip sebagai sifat orang-orang fasik bukan bejat total. Roma 3:15-16 ayat ini di kutip dari Yesaya 59:7-8 Yesaya berbicara tentang orang israel yang memberontak terhadap Tuhan. Dalam Maz 36:2. Jadi tiga kutipan mengenai orang ateis dan satu kutipan mengenai pemberontakan terhadap Allah. Inti tidak terkandung sebagai bejat total. Ketika kita berbicara tentang kejatuhan manusia di samping mati secara fisik tapi juga mati secara roh Efesus 2:1 kata mati ini secara rohani karena kejatuhan manusia dalam dosa, dalam ayat 4-5 ini tidak mati secara jasmani tapi rohani dalam Matius 8:21-22 Yesus mengajarkan orang yang mati biarlah di kubur sama orang mati, maksudnya orang yang hidup tanpa dia bukan mati secara jasmani tapi rohani.kata mati ini analogi nya tidak bisa berbuat apa-apa baik atau jahat ini yang di katakan dalam teologi Calvinisme yang membutuhkan preditinasi, Allah yang milih. Dalam Gereja timur sejak purba, roh yang mati itu tidak di mengerti seperti itu. Amin.

nama : Suriani Waruwu

Semester : VII

M.K : Dogmatika 4

Tugas : Ke 7

Diterbitkan oleh suriani17

selagi bisa ku pasti terus berjuang

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: