translate

nama : Suriani Waruwu

Semester : VII

M.K : Etika Kristen

Tugas : Ke 4

Marniwati Gulo

  1. Men are often called intelligent wrongly. Intelligent men are not those who are erudite in the sayings and books of the wise men of old, but those who have an intelligent soul and can discriminate between good and evil. They avoid what is sinful and harms the soul ; and with deep gratitude to God they resolutely adhere by dint of practice to what is good and benefits the soul. These men alone should truly be called intelligent.

Manusia sering di gunakan nous/mata jiwa/intelek/hati/mata batin secara keliru. Manusia yang memiliki nous bukanlah mereka yang terpelajar dalam perkataan dan buku-buku orang bijak di masa lalu, tetapi mereka yang memiliki nous yang cerdas, yang dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Mereka menghindari apa yang berdosa dan membahayakan jiwa; dan dengan rasa terima kasih yang dalam kepada Tuhan mereka berpegang teguh pada praktik untuk kebaikan dan memberi manfaat bagi jiwa. Manusia harus benar-benar memiliki nous atau intelek secara cerdas.

  • The truly intelligent man pursues one sole objective: to obey and to conform to the God of all. With this single aim in view, he disciplines his soul, and whatever he may encounter in the course of his life, he gives thanks to God for the compass and depth of His providential ordering of all things. For it is absurd to be grateful to doctors who give us bitter and unpleasant medicines to cure our bodies, and yet to be ungrateful to God for what appears to us to be harsh, not grasping that all we encounter is for our benefit and in accordance with His providence. For knowledge of God and faith in Him is the salvation and perfection of the soul.

Orang yang benar-benar memiliki nous mengejar satu tujuan (semua orang memiliki nous tapi belum tentu menggunakan dengan benar): untuk taat dan untuk menyesuaikan diri dengan Allah. Dengan tujuan satu ini, ia mendisiplinkan jiwanya (askesis), dan apa pun yang mungkin ia temui dalam perjalanan hidupnya, ia bersyukur kepada Allah atas pedoman dan kedalaman pemeliharaanNya yang teratur untuk segala sesuatu. Tidak mungkin  kita tidak berterima kasih kepada dokter yang memberi kita obat-obatan yang pahit dan tidak enak untuk menyembuhkan tubuh kita, tetapi tidak bersyukur kepada Allah untuk apa yang tampaknya baginya keras bagi kita, tidak memahami bahwa semua yang kita temui itu  adalah untuk kebaikan kita dan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena pengetahuan tentang Allah dan iman kepada-Nya adalah keselamatan dan kesempurnaan jiwa.

  • We have received from God self-control, forbearance, restraint, fortitude, patience, and the like, which are great and holy powers, helping us to resist the enemy’s attacks. If we cultivate these powers and have them at our disposal, we do not regard anything that befalls us as painful, grievous or unbearable, realizing that it is human and can be overcome by the virtues within us. The unintelligent do not take this into account; they do not understand that all things happen for our benefit, rightly and as they should, so that our virtues may shine and we ourselves be crowned by God.

Kita telah menerima dari Allah seperti penguasaan diri, kesabaran, pengekangan, ketabahan, kesabaran, dan sejenisnya, yang merupakan kekuatan besar dan kudus, membantu kita melawan serangan musuh. Jika kita menumbuhkan kekuatan ini dan memilikinya, kita tidak menganggap apa pun yang menimpa kita sebagai hal yang menyakitkan, pedih, atau tak tertahankan, menyadari bahwa itu adalah manusia dan dapat diatasi dengan kebajikan di dalam diri kita. Sedangkan, Orang yang tidak memiliki nous tidak memperhitungkan hal ini; mereka tidak mengerti bahwa semua hal terjadi untuk kebaikan kita, dengan benar dan sebagaimana mestinya, sehingga kebajikan kita dapat bersinar dan kita sendiri dimahkotai oleh Allah. à orang yang integen ini menolong kita melakukan hal yang baik.

  • You should realize that the acquisition of material things and their lavish use is only a short-lived fantasy, and that a virtuous way of life, conforming to God’s will, surpasses all wealth. When you reflect on this and keep it in mind constantly, you will not grumble, whine or blame anyone, but will thank God for everything, seeing that those who rely on repute and riches are worse off than yourself. For desire, love of glory and ignorance constitute the worst passion of the soul.

Kamu harus menyadari bahwa perolehan benda-benda material dan penggunaannya yang mewah hanyalah fantasi yang fana, (hal-hal cinta pada materi itu jahat) dan bahwa kebajikan yang dilakukan menurut kehendak Allah, melampaui semua kekayaan. Ketika kamu merenungkan hal ini dan terus mengingatnya, kamu tidak akan menggerutu, merengek atau menyalahkan siapa pun, tetapi akan berterima kasih kepada Allah atas segalanya, melihat bahwa mereka yang mengandalkan reputasi dan kekayaan lebih buruk daripada diri Anda sendiri. Untuk nafsu, cinta akan kemuliaan dan ketidak mau tahuan/tidak acuh/tidak peduli merupakan nafsu terburuk dari jiwa.

  1. The intelligent man, examining himself, determines what is appropriate and profitable to him, what is proper and beneficial to the soul, and what is foreign to it. Thus he avoids what is foreign and harmful to the soul and cuts him off from immortality.

Orang yang memiliki nous, memeriksa dirinya sendiri, menentukan apa yang pantas dan menguntungkan baginya, apa yang asing bagi jiwanya, Karena itu, ia menghindari apa yang asing dan berbahaya bagi jiwa dan melenyapkannya dari keabadian.

  1. The more frugal a man’s life, the happier he is, for he is not troubled by a host of cares: slaves, farm-workers or herds. For when we are attached to such things and harassed by the problems they raise, we blame God. But because of our self-willed desire we cultivate death and remain wandering in the darkness of a life of sin, not recognizing our true self.

Semakin hemat hidup seseorang, semakin dia bahagia, karena dia tidak terganggu oleh sejumlah masalah: budak, buruh tani atau ternak. Karena ketika kita terikat pada hal-hal seperti itu dan dilecehkan oleh masalah yang mereka angkat, kita menyalahkan Tuhan. Tetapi karena keinginan nafsu, kita memupuk kematian dan tetap berkeliaran dalam kegelapan kehidupan dosa, tidak mengakui diri sejati kita.

  1. One should not say that it is impossible to reach a virtuous life; but one should say that it is not easy. Nor do those who have reached it find it easy to maintain. Those who are devout and whose intellect enjoys the love of God participate in the life of virtue; the ordinary intellect, however, is worldly and vacillating, producing both good and evil thoughts, because it is changeful by nature and directed towards material things. But the intellect that enjoys the love of God punishes the evil which arises spontaneously because of man’s indolence.

Seseorang seharusnya tidak mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencapai kehidupan yang baik; tetapi orang harus mengatakan bahwa itu tidak mudah. Mereka yang telah mencapainya juga tidak mudah dijaga. Mereka yang saleh dan yang memiliki nous menikmati cinta Allah berpartisipasi dalam kehidupan kebajikan; pikiran biasa, bagaimanapun, adalah duniawi dan bimbang, menghasilkan pikiran baik dan jahat, karena sifatnya berubah-ubah dan diarahkan pada hal-hal materi. Tetapi nous/intelek yang menikmati cinta Tuhan menghukum kejahatan yang muncul secara spontan karena kemalasan manusia. à untuk praktikos itu tidak mudah krn bisa saja sifat kita berubah2 tetpi kita harus terus menerus pikiran. 1 Yoh 2:15 kalau kita mengasihi dunia maka energi Tuhan akan menjauh maka yang harus kita lakukan adalah bekerja sama lagi

Mercy

On the Character of Men and on the Virtuous Life:

One Hundred and Seventy Texts

8. The uneducated and foolish regard instruction as ridiculous and do not want to receive it, because it would show up their uncouthness, and they want everyone to be like themselves. Likewise those who are dissipated in their life and habits are anxious to prove that everyone else is worse than themselves, seeking to present themselves as innocent in comparison with all the sinners around them. The lax soul is turbid and perishes through wickedness, since it contains within itself profligacy, pride, insatiate desire, anger, impetuosity, frenzy, murderousness, querulousness, jealousy, greed, rapacity, self-pity, lying, sensual pleasure, sloth, dejection, cowardice, morbidity, hatred, censoriousness, debility, delusion, ignorance, deceit and forgetfulness of God. Through these and suchlike evils the wretched soul is punished when it is separated from God.

Terjemahan:

Mereka yang tidak berpendidikan dan yang bodoh itu menganggap pengajaran sebagai tertawaan dan tidak ingin menerimannya, karena itu akan menunjukkan sikap kasar mereka, dan mereka ingin setiap orang menjadi seperti diri mereka sendiri. Demikian juga mereka yang hilang dalam kehidupan dan mereka biasanya ingin membuktikan bahwa orang lain lebih buruk dari pada diri mereka sendiri. Mereka berusaha memperlihatkan diri mereka sebagai orang yang tidak bersalah dibandingkan dengan semua orang yang tampak berdosa disekitar mereka. Jiwa lemah adalah keruh dan kejahatan menuju kebinasaan, karena di dalam dirinya mengandung kejangakan (berbuat tidak senonoh), kesombongan, keinginan yang tidak pernah puas, kemarahan, ketidaksabaran, kegilaan, pembunuhan, pertengkaran, kecemburuan, keserakahan, nafsu kesenangan, mengasihani diri sendiri, berbohong, kesenangan seksual, kemalasan, kesedihan, pengecut, keadaan tidak sehat (mordibiditi), kebencian, pencela, kelemahan, khayalan, ketidaktahuan, penipuan, dan kelupaan akan Tuhan. Hal semacam ini dan kejahatan sedemikian, merusak jiwa dan dihukum ketika terpisah dari Tuhan. à lawan orang intelegen adalah orang yang tidak berpendidikan.

9. Those who aim to practise the life of virtue and holiness should not incur condemnation by pretending to a piety which they do not possess. But like painters and sculptors they should manifest their virtue and holiness through their works, and should shun all evil pleasures as snares.

Mereka yang ingin mempraktikan kehidupan kebajikan dan kekudusan seharusnya tidak mengganggap diri berpura-pura saleh. Tetapi seperti pelukis dan pematung, mereka harus memanifestasikan kebajikan dan kekudusan melalui karya-karya mereka, dan mereka harus menjauhi segala kesenangan jahat yang seperti jerat. à orang yang intelegen dia tidak berpura-pura baik tetapi menyatakan kebajikannya lewat karya2 mereka.

10.  A wealthy man of good family, who lacks inward discipline and all virtue in his way of life, is regarded by those with spiritual understanding as under an evil influence; likewise a man who happens to be poor or a slave, but is graced with discipline of soul and with virtue in his life, is regarded as blessed. And just as strangers travelling in a foreign country lose their way, so those who do not cultivate the life of virtue are led astray by their desires and get completely lost.

Seorang kaya dari keluarga baik-baik, yang kurang disiplin di dalam semua kebajikan dari cara hidupnya, dianggap oleh mereka yang rohani  sebagai orang yang berada di bawah pengaruh kejahatan; demikian juga mereka yang kebetulan miskin atau budak, yang tetap diberkahi dengan disiplin jiwa, dan dengan kebenaran dalam hidupnya, maka dianggap diberkati. Dan sama seperti orang asing yang bepergian di negara asing tersesat, begitu juga dengan mereka yang tidak memupuk kehidupan kebajikan akan disesatkan oleh keinginan mereka dan benar-benar tersesat. à mereka yang tidak pernah mendisplinkan dirinya di anggap tersesat.

11. Those who can train the ignorant and inspire them with a love for instruction and discipline should be called moulders of men. So too should those who reform the dissolute, remodelling their life to one of virtue, conforming to God’s will. For gentleness and self-control are a blessing and a sure hope for the souls of men.

Mereka yang bisa melatih orang-orang bodoh dan menginspirasi mereka dengan kasih melalui pengajaran dan disiplin akan disebut pembentuk manusia. Demikian juga mereka yang akan melakukan pembaharuan moral, mengubah hidup mereka kepada suatu kebajikan, menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan.  Kelemah-lembutan dan pengendalian diri adalah sebuah berkat dan sebuah harapan yang pasti bagi jiwa manusia. à merendahkan diri merupakan suatu harapan bagi jiwa kita.

12. A man should strive to practise the life of virtue in a genuine way; for when this is achieved it is easy to acquire knowledge about God. When a man reveres God with all his heart and with faith, he receives through God’s providence the power to control anger and desire; for it is desire and anger which are the cause of all evils.

Seorang manusia hendaklah berusaha keras untuk mempraktikkan kehidupan kebajikan di dalam satu ketulusan; karena ketika hal ini tercapai maka sangat mudah untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah.  Ketika seseorang menghormati Allah dengan segenap hati dan dengan iman, maka melalui pemeliharaan Allah dia menerima kekuatan untuk mengendalikan amarah dan nafsu keinginannya; karena keinginan dan amarahlah yang menjadi penyebab semua kejahatan. à

13. A human being is someone who possesses spiritual intelligence or is willing to be rectified. One who cannot be rectified is inhuman. Such people must be avoided: because they live in vice, they can never attain immortality.

Manusia adalah seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual atau bersedia untuk diperbaiki. Mereka yang tidak bisa diperbaiki adalah bukan manusia. Orang-orang seperti itu harus dihindari: karena mereka hidup dalam kejahatan, mereka tidak akan pernah bisa mencapai keabadian.

14. When the intelligence is truly operative, we can properly be called human beings. When it is not operative, we differ from animals only in respect of our physical form and our speech. An intelligent man should realize that he is immortal and should hate all shameful desires, which are the cause of death in men.

Ketika kecerdasan (Nous) benar-benar berfungsi, maka kita disebut manusia. Ketika tidak bisa berfungsi, kita tidak berbeda dengan binatang kecuali secara fisik dan bisa berbicara. Manusia yang memiliki kecerdasan akan menyadari bahwa dia abadi dan membenci semua keinginan/hasrat yang memalukan, yang menyebabkan kematian bagi manusia atau bagi dirinya sendiri. à orang yang menyadari di hadapapn Tuhan itu kekal dan dengan itu dia membenci semua keinginan yang memalukan.

Nikson

15). Every craftsman displays his skill through the material he uses: one man, for instance, displays it in timber, another in copper, another in gold and silver. Likewise we who are taught the life of holiness ought to show that we are human beings not merely by virtue of our bodily appearance, but because our souls are truly intelligent. The truly intelligent soul, which enjoys the love of God, knows everything in life in a direct and immediate way; it lovingly woos God’s favour, sincerely gives Him thanks, and aspires with all its strength towards Him.

15). Setiap pengrajin memamerkan keahliannya melalui bahan yang ia gunakan: satu orang, misalnya, memajangnya di kayu, yang lain di tembaga, yang lain di emas dan perak. Demikian juga kita yang diajari kehidupan kekudusan harus menunjukkan bahwa kita adalah manusia bukan hanya berdasarkan penampilan jasmani kita, tetapi karena jiwa kita benar-benar cerdas. Jiwa yang benar-benar cerdas, yang menikmati kasih Allah, mengetahui segala sesuatu dalam hidup secara langsung; itu penuh kasih kebaikan Allah, dengan tulus berterima kasih kepada-Nya, dan dan menggunakan seluruh kekuatan untuk mengasihi Dia.

 I 6. When navigating, helmsmen use a mark in order to avoid reefs or rocks. Likewise those who aspire to the life of holiness must mark carefully what they ought to do and what they ought to avoid; and, cutting off evil thoughts from the soul, they must grasp that the true, divine laws exist for their profit.

 I 6. Saat bernavigasi, juru mudi menggunakan tanda untuk menghindari terumbu atau batu. Demikian juga mereka yang bercita-cita untuk kehidupan kudus harus menandai dengan hati-hati apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka hindari; dan, memotong pikiran jahat dari jiwa, mereka harus memahami bahwa hukum ilahi yang benar ada demi kebaikan mereka.

 I 7. Helmsmen and charioteers gain proficiency through practice and diligence. Likewise those who seek the life of holiness must take care to study and practise what conforms to God’s will. For he who so wishes, and has grasped that it is possible, can with this faith attain incorruptibility.

 I 7. Para juru mudi dan kusir mendapatkan kecakapan melalui latihan dan ketekunan. Demikian juga mereka yang mencari kehidupan kekudusan harus berhati-hati untuk mempelajari dan mempraktikkan apa yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yang menginginkan, dan telah memahami bahwa itu mungkin, dapat dengan iman ini mencapai kekekalan.

 I 8. Regard as free not those whose status makes them outwardly free, but those who are free in their character and conduct. For we should not call men in authority truly free when they are wicked or dissolute, since they are slaves to worldly passions. Freedom and happiness of soul consist in genuine purity and detachment from transitory things.

 I 8. Menganggap bebas bukan mereka yang statusnya secara lahiriah bebas, tetapi mereka yang bebas dalam karakter dan perilaku mereka. Karena kita hendaknya tidak menyebut manusia yang berkuasa benar-benar bebas ketika mereka jahat atau hancur, karena mereka di perbudak budak nafsu duniawi. Kebebasan dan kebahagiaan jiwa terdiri dari kemurnian dan keterasingan sejati dari hal-hal yang sementara.

 I 9. Keep in mind that you must always be setting an example through your moral life and your actions. For the sick find and recognize good doctors, not just through their words, but through their actions.

19. Ingatlah bahwa Anda harus selalu memberi contoh melalui kehidupan moral dan tindakan Anda. Bagi orang sakit, temukan dan kenali dokter yang baik, tidak hanya melalui kata-kata mereka, tetapi juga melalui tindakan mereka.

            20. Holiness and intelligence of soul are to be recognized from a man’s eye, walk, voice, laugh, the way he spends his time and the company he keeps. Everything is transformed and reflects an inner beauty. For the intellect which enjoys the love of God is a watchful gate-keeper and bars entry to evil and defiling thoughts.

20. Kekudusan dan intelek jiwa harus dikenali dari apa yang dia lihat, jalan, bicara, tertawa, cara dia menghabiskan waktu dan teman-teman yang bersamanya. Semuanya ditransformasikan dan mencerminkan kecantikan batin. Sebab intelek yang menikmati cinta/kasih Allah adalah penjaga gerbang dan bar yang mengawasi masuknya pikiran jahat dan mencemari.

 2 I. Examine and test your inward character; and always keep in mind that human authorities have power over the body alone and not over the soul. Therefore, should they command you to commit murders or other foul, unjust and soul-corrupting acts, you must not obey them, even if they torture your body. For God created the soul free and endowed with the power to choose between good and evil.
             2 I. Periksa dan uji karakter batiniah Anda; dan selalu ingat bahwa kita memiliki kekuasaan atas tubuh dan juga jiwa. Karena itu, jika mereka memerintahkan Anda untuk melakukan pembunuhan atau tindakan curang, tidak adil dan merusak jiwa lainnya, Anda tidak harus mematuhinya, bahkan jika mereka menyiksa tubuh Anda. Karena Allah menciptakan jiwa yang bebas dan diberkahi dengan kekuatan untuk memilih antara yang baik dan yang jahat.

Diterbitkan oleh suriani17

selagi bisa ku pasti terus berjuang

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: