Intelek

nama : Suriani Waruwu

Semester : VII

M.K : Etika Kristen

Dosen : Dr. Hendi Wijaya S.S

Tugas : Ke-9

Tami

43· The man of intelligence, being deeply concerned for participation in the divine and union with it, will never become engrossed with anything earthly or base, but has his intellect always turned towards the heavenly and eternal. And he knows it is God’s will that man should be saved, this divine will being the cause of all that is good and the source of the eternal blessings granted to men.

43. Orang yang berintelek, adalah orang yang terlibat secara mendalam di dalam ilahi dan persekutuan degngan Allah. tidak akan pernah asyik dengan apa pun yang bersifat duniawi atau pangkalan, tetapi nousnya selalu beralih ke surga dan abadi. Dan dia tahu itu adalah kehendak Tuhan bahwa manusia harus diselamatkan, kehendak ilahi ini menjadi penyebab dari semua yang baik dan sumber dari berkat abadi yang diberikan kepada manusia.

 44· When you find someone arguing, and contesting what is true and self-evident, break off the dispute and give way to such a man, since his intellect has been petrified. For just as bad water ruins good wines, so harmful talk corrupts those who are virtuous in life ami character.

44. Ketika Anda menemukan seseorang yang berdebat, dan menentang apa yang benar dan terbukti dengan sendirinya, putuskan perselisihan dan berikan jalan kepada orang semacam itu, karena kecerdasannya telah membatu. Karena air yang buruk merusak anggur yang baik, maka pembicaraan yang merusak merusak mereka yang berbudi luhur dalam kehidupan.

45″· If we make every effort to avoid death of the body, still more should it be our endeavour to avoid death of the soul. There is no obstacle for a man who wants to be saved other than negligence and laziness of soul.

45 “Jika kita melakukan segala upaya untuk menghindari kematian tubuh, masih harus lebih dari itu usaha kita untuk menghindari kematian jiwa. Tidak ada halangan bagi seorang manusia yang ingin diselamatkan selain kelalaian dan kemalasan jiwa.

46. Those who scorn to grasp what is profitable and salutary are considered to be ill. Those, on the other hand, who comprehend the truth but insolently enjoy dispute, have an intelligence that is dead; and their behaviour has become brutish. They do not know God and their soul has not been illumined.

46. Mereka yang bersumpah untuk memahami apa yang menguntungkan dan mendapat upah dianggap sakit. Di sisi lain, mereka yang memahami kebenaran tetapi dengan susah payah menikmati perselisihan, memiliki kecerdasan yang mati; dan perilaku mereka menjadi brutal. Mereka tidak mengenal Tuhan dan jiwa (nous) mereka belum diterangi.

47. God, by His Logos, created the different kinds of animals to meet the variety of our needs: some for our food, others for our service. And He created man to apprehend them and their actions and to appraise them gratefully. Man should therefore strive not to die, like the non-rational animals, without having attained some apprehension of God and His works. One must know that God is omnipotent; nothing can resist Him who is omnipotent. For man’s salvation, out of nothing He created and creates by His Logos all that He wills.

47. Tuhan, dengan firman-Nya, menciptakan berbagai jenis hewan untuk memenuhi beragam kebutuhan kita: beberapa untuk makanan kita, yang lain untuk pelayanan kita. Dan Dia menciptakan manusia untuk menawan mereka dan tindakan mereka dan untuk mengapresiasi mereka dengan penuh syukur. Karena itu manusia harus berusaha untuk tidak mati, seperti binatang-binatang yang tidak rasional, tanpa memperoleh pemahaman tentang Allah dan pekerjaan-Nya. Seseorang harus tahu bahwa Tuhan itu Mahakuasa; tidak ada yang bisa menolak Dia yang Mahakuasa. Demi keselamatan manusia, dari ketiadaan yang Dia ciptakan dan menciptakan dengan firman-Nya semua yang Dia kehendaki.

48. Celestial beings are immortal because they have divine goodness within them; whereas earthly beings have become mortal because of the self-incurred evil within them. This evil comes to the mindless through their laziness and ignorance of God.

48. Makhluk surgawi adalah abadi karena mereka memiliki kebaikan ilahi di dalamnya; sedangkan makhluk duniawi telah menjadi fana karena kejahatan yang timbul sendiri dalam diri mereka. Kejahatan ini datang kepada orang-orang yang tidak memiliki intelek sebab dia malas dan ketidakpedulian mereka akan Allah.

49. Death, when understood by men, is deathlessness; but, when not understood by the foolish, it is death. It is not this death that must be feared, but the loss of the soul, which is ignorance of God. This is indeed disaster for the soul.

49. Maut, bila dipahami oleh orang, adalah kematian abadi; tetapi, ketika tidak dipahami oleh orang bodoh, itu adalah kematian. Bukan kematian ini yang harus ditakuti, tetapi hilangnya jiwa (nous), yang merupakan ketidaktahuan Tuhan. Ini memang bencana bagi jiwa (nous).

Orang-orang yang tidak memiliki intelek adalah orang-orang yang makhluk duniawi, orang-orang jahat, malas dan ketidak pedulian akan Allah. Kita harus mengontrol logismoi itu. Yang pertama kita harus memiliki intelek, hati, bagaimana kita mengerti logismoi, bagaimana philokalia itu mengontrol pikiran-pikiran jahat itu. Itu sebabnya belajar philokalia karena philokalia merupakan sekolah doa dari hati yang penuh misteri dan suatu pengajaran yang mendalam dari Kristus. Jika kamu berada dalam anugrah maka kamu akan berada dalam hadirat Allah, itulah yang di sebut Theosis.  Nous itu di pupuk melalui studi, pelatihan fakulti kita tetapi juga di kembangkan melalui doa, melalui puasa karena nous itu pusat dari kehidupan. Seperti kata mengatakan jika nousmu terang maka teranglah seluruh tubuhmu. Jadi nous ini tidak sekedar emosi saja tetapi itulah yang di sebut anugrah. Nous adalah spiritual vision yang mengarahkan kita untuk mengenal Allah. Nous yang murni dan tidak menyinggung Tuhan sama dengan mata yang bahkan tidak menerima partikel debu terkecil. Nous sebagai hegemonikon dan perisai.  para Bapa Gereja St. Hesychios menyatakan bahwa Musa sang pemberi hukum taurat dianggap sebagai icon Nous. Musa melihat Allah di dalam semak terbakar lalu kita bisa mengatakan wajahnya bersinar waktu dia menerima 10 hukum taurat dan dia di jadikan seolah-olah Dia Dewa/kekuatan ilahi untuk melawan Firaun. Selain itu Dia membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Musa itu seperti Nous kita yang melawan kejahatan, dia yang menerima hukum, wajahnya bersinar, membawa keluar Israel dari Mesir. Jadi nous kita membawa kita keluar dari dosa sama seperti Musa, dll. Aktivitas musa ini merupakan aktivitas intelek kita. Nous ini dari bahasa Yunani yang artinya mata. Nous ini merupakan sebagai pemimpin diri kita karena diri kita ini ibarat sebuah kerajaan yang ada rajanya yaitu nous kita tadi dan di bantu oleh doa, puasa, baca Alkitab, hukum taurat. Nous itu ibarat hegemonikon sebagai pengemudi, yang memegang kendali kerajaannya. Jika kita di kendalikan hegemonikon/mata (Mat 6:22-23) itu maka kita akan merasa kemajuan. Ini bukan hanya mata jasmani tapi mata yang mengontrol hidup kita. Hegemonikan ini di sebut sebagai pikiran Kristus berarti nous kita dulu nafsu tapi sekara di ubah menjadi pikiran of Christ karena kita sudah memakai pakaian Kristus waktu kita di baptis. Kalau nous kita pikiran kristus maka Kristuslah mengontrol hidup kita seperti kata Paulus hidupku bukan hidupku lagi melainkan Kristus. Nous kita yang di isi oleh Kristus bukan berarti harus berdebat secara teologi melainkan intelek berdiam di dalam jiwa kita. St. Anthony mengatakan Intelek/nous itu tidak hadir di dalam diri semua orang. Tuhan telah menetapkan bahwa jiwa harus di penuhi dengan kecerdasan saat tubuh tumbuh, sehingga manusia dapat memilih. Intelek itu suatu hadiah dari Allah yang menyelamatkan jiwa kita. Intelek itu bukan jiwa tapi suatu karunia yang di beri oleh Tuhan untuk menolong jiwa kita dan mengarahkan jiwa kita supaya tidak fana. Intelek itu yang menikmati kasih Allah yang sebagai penolong/penyelamat jiwa manusia. St. Gregory of sinai mengatakan bahwa Intelek yang dimurnikan adalah mata rohani. Seperti yang Yesus ucapkan dalam Mat 6:22-23. Mata jasmani menerima hal-hal dari luar sedangka intelek ketika dia di murnikan dan menerima Allah maka kalau mata jasmani melihat materi sedangkan mata rohani kita melihat hal-hal ilahi. Jadi di balik kita penggati sebuah buku intelek memilki roh pengganti dari sebuah pena. Pengganti kitab adalah terang. Sehingga menceplingkan kita kedalam terang sehingga kita menjadi terang. Dan akan membuat kita hati yang murni kepada mereka yang mendengar dan melalui roh Allah akan mengajarkan kita untuk mengenal Allah.

1. the intellect is the spiritual vision of Gad

2. The intellect implies a direct intuitive nous inilah yang akan mengimplikaskan secara langsung tentang kebenaran. Jadi kita mengenal kebenaran seolah-olah terang.

3. nous itu kebenaran, dan penolong/penyelamat jiwa

4. nous itu terangnya tubuh

Apa itu nous? Dalam Roma 7:23 hukum nous melawan/berperang dengan hukum lain antara lain hukum dosa. Huku dosa itu dimana? Di dalam anggota tubuh ku. Kalau hukum nous kalah maka  ia akan menjadi tawanan hukum dosa. Dalam rom 7:25-26 dengan nous aku melayani hukum Allah dan pada satu sisi daging melayani dalam hukum dosa. Roma 11:34 ayat ini merupakan kutipan dari Yesaya 40:13. Allah memiliki Nous Roma 12:2 manusia bisa di perbaharui makanya ada perintah perbaharui jadi nous ini bisa di perbaharui supaya tidak hidup serupa dengan dunia dan memiliki kemampuandokimazo untuk memilih/membeda-bedakan yang mana kehendak Allah. Amin.

Diterbitkan oleh suriani17

selagi bisa ku pasti terus berjuang

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: